Laporan Khusus Lain

Indeks Laporan Khusus




Selasa, 17/11/2009 09:48 WIB
Kekerasan di Sekolah
Langgar Daerah Larangan Pasti Bonyok
Deden Gunawan - detikNews

Jakarta - Bertahun-tahun halaman lantai 1 di di SMA 82, Jakarta Selatan, menjadi zona eksklusif siswa kelas III di sekolah tersebut. Tidak ada siswa kelas I maupun kelas II yang berani melintas atau bermain di wilayah itu. Siswa-siswa kelas I dan II yang ingin masuk ke kelasnya, hanya bisa melintas melewati lapangan basket dan menuju tangga ke lantai 2, tempat ruang kelas mereka berada.

Memang di lantai satu tidak hanya terdapat ruangan kelas III. Lima ruangan kelas yang ada di lantai itu, 2 kelas diisi siswa kelas III,  dan 2 kelas lagi diisi kelas II. Sementara kelas I mengisi 1 kelas.  Selain ruang kelas, di lantai 1 terdapat laboratorium, serta ruang guru dan kepala sekolah.

Meski demikian, siswa-siswa kelas III merasa dirinya sebagai penguasa di wilayah itu. "Lapangan basket di sekolah hanya digunakan oleh anak-anak kelas III. Murid kelas I dan II hanya main kalau jam pelajaran olah raga saja," jelas salah seorang siswa kelas I yang enggan disebutkan namanya.

Dari pantauan detikcom, bangunan sekolah berlatai 2 tersebut berbentuk huruf U. Di sisi kanan gerbang masuk terdapat lapangan parkir guru serta kantin. Sementara di tengah areal gedung yang berhadap-hadapan dengan gerbang sekolah terdapat ruang guru, kepala sekolah, serta tangga menuju lantai 2. Adapun di sisi sebelah kiri gedung berjajar 5 ruangan kelas, berikut laboratorium sekolah.

Karena menjadi wilayah khusus, siswa kelas I dan II, baik yang ada di lantai 1 maupun lantai 2, merasa segan untuk melintas atau bermain di areal tersebut. Mereka kemudian menyebut areal tersebut dengan sebutan "Jalur Gaza".

Jika ada yang melanggar, sang penguasa, yakni siswa kelas III, bisa langsung menghajarnya, seperti yang dialami Ade Fauzan Mahfuza, siswa kelas X-2. Ia terpaksa mendapat 6 jahitan di bagian mulut dan memar dibagian kepalanya.

Ade yang sempat dirawat di Rumah Sakit Pusat pertamina (RSPP) dikeroyok para seniornya pekan lalu gara-gara masuk "Jalur Gaza", tepatnya di depan ruangan kelas III IPS dan IPA.

Sebelum Ade, seorang siswa kelas I dan II juga sempat menjadi korban keganasan penguasa "jalur gaza" tersebut. "Tapi kondisinya tidak separah yang dialami Ade," jelas siswa lainnya yang ditemui detikcom.

Beberapa siswa yang ditemui detikcom tidak mengetahui kapan persisnya istilah "Jalur Gaza" didengungkan. Karena sudah beberapa tahun lamamnya, dalam setiap Masa Orientasi Siswa (MOS), para senior di Osis sekolah tersebut menyampaikan wilayah terlarang tersebut.

Sementara Diana, alumnis SMA 82 angkatan 1999, kepada detikcom mengatakan, saat dirinya sekolah di sana istilah itu belum ada. Ia hanya tahu para siswa masing-masing angkatan hanya punya tongkrongan khusus di luar area sekolah.

Untuk kelas II, kata Diana, biasanya nongkrong di Wartam (warung taman), yang terletak tidak jauh dari sekolah. Sementara untuk siswa kelas I dan III punya tongkrongan di Warmin, yang letaknya di pinggir pom bensin, juga tidak jauh dari lokasi sekolah.

"Tradisinya, seperti itu dari dulu. Angkatan genap di Wartam, kalau yang ganjil di Warmin," jelas perempuan yang mengaku saat ini sedang sibuk menekuni dunia modeling.

Sekalipun tidak mengenal wilayah terlarang, namun diakui Diana, perlakuan istimewa untuk siswa senior memang sudah ada sejak dulu. Misalnya, siswa kelas I atau II, yang mengendarai mobil atau diantar pakai mobil tidak diperkenankan turun di depan gerbang sekolah. Bila mereka bawa mobil, harus diparkir di sekitar pom bensin yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi sekolah.

Karena yang boleh turun di depan gerbang dan memarkir mobil di depan sekolah hanya anak kelas III. "Kalau ada yang melanggar akan kena sanksi dari para senior. Jenis sanksinya macam-macam," jelas Diana.

Sedangkan pengakuan Kepala Sekolah SMA 82 Umar Muchtar lain lagi. Menurutnya, selama ini di sekolah yang dipimpinnya tidak ada istilah-istilah daerah terlarang. Semua siswa punya hak yang sama. Hanya saja, ia mengakui, kalau siswa kelas I atau II biasanya sangat menghormati senior mereka di kelas III.

"Sikap saling hormat-menghormati saya kira wajar. Yang yunior menghormati senior dan yang senior menghargai junior," jelas Umar saat dihubungi detikcom.

Ia juga membantah kalau aksi pengeroyokan terhadap Ade, yang terjadi di sekolah tersebut beberapa waktu lalu, bukan karena siswa junior melanggar daerah larangan yang ditetapkan para seniornya. Kata Umar, kejadian itu mungkin disebabkan adanya kesalahpahaman sebelumnya.

"Saya kira tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Mungkin saja, antara Ade dan para seniornya sedang berkonflik. Dan kebetulan saja aksi pemukulan itu terjadi di depan ruangan kelas III, yang disebut-sebut Jalur Gaza itu," ujar Umar.

Meski demikian, Umar berjanji akan membenahi tata pergaulan di sekolah tersebut. Salah satunya dengan mengadakan dialog di masing-masing kelas serta meningkatkan kegiatan yang melibatkan semua angkatan.

"Kami ingin intensifkan program pembauran antar tingkatan di sekolah. Supaya gap antara siswa yunior dan senior bisa dihilangkan. Karena bagaimanapun mereka semua adalah anak-anak kami," ujarnya.

(ddg/nrl)


Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (37 Komentar)

Baca juga :

Redaksi: redaksi[at]staff.detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Nuniek di nuniek[at]detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.526).