Jumat, 19/06/2009 12:03 WIB
Monolog di Deklarasi Pemilu Damai
Butet: Aku Tak Mengkritik, Cuma Mengulang, Memuji dan Mengharapkan
Gede Suardana - detikNews
dok detikcom
Denpasar -
Butet Kertaredjasa menanggapi dingin pro kontra aksi monolognya dalam Deklarasi Pemilu Damai yang digelar KPU 10 Juni. Dia juga tidak merasa ada sesuatu yang salah. Dirinya cuma mengulang, memuji dan mengharapkan dari semua fakta yang ada.
Butet tampil membawakan monolog dalam sesi kebudayaan pasangan Megawati-Prabowo. Monolog Butet sarat sindiran untuk pemerintah SBY, mulai dari persoalan ekonomi hingga korupsi. Selama Butet beraksi, tak ada senyum mengembang di wajah SBY.
Dan tanpa menunggu lama setelah acara bubar, kontroversi pun meruak. Pada satu sisi, monolog Butet dinilai sebuah kritik yang lumrah. Namun di sisi lain, ocehan seniman Yogya itu dianggap provokatif.
Apakah monolog Butet tersebut merupakan pesanan khusus dari kubu Megawati-Prabowo untuk menjatuhkan SBY? Apakah Butet mendapat tekanan setelah acara tersebut? Kepada Gede Suardana dari detikcom, Butet menjelaskan semua itu usai tampil monolog di Seminar Nasional Internal Audit di Hotel Sanur Beach, Sanur, Denpasar, Kamis (18/6/2009).
Alasan Anda menerima tawaran kubu Megawati-Prabowo?Saya mau, sebab sebelumnya saya mau tampil pada acara Boediono. Saya sanggupi (tampil pada acara Boediono) karena ada janji dari Jak-TV, bahwa akan tampil monolog pada pihak yang lainnya juga.
Boediono kusanggupi, kemudian dibriefing platform Boediono. Kemudian Mega-Prabowo juga minta, ya sudah, aku layani juga.
Mengapa Anda menerima tawaran dari semua pasangan capres-cawapres?Karena semua kuanggap baik. Masing-masing ada keunggulan dan kelemahannya. Jadi tidak ada interest politik. Karena ada tawaran dari tim sukses, ya aku embat semua.
Aksi Anda dinilai menghujat orang lain?Kerja seperti itu kok dianggap menghujat, aku bingung sendiri.
Bukankan Anda menyindir pemerintahan SBY?Saya memperlihatkan fakta ke publik yang sudah diketahui bersama. Media massa sudah mengungkap fakta itu. Bagi aku, itu bukan kritik. Itu cuma mengulang, memuji dan mengharapkan. Memuji karena Megawati sukses menyelenggarakan Pemilu 2004. Mengharapkan agar SBY dan Megawati bersalaman. Itu adalah harapan yang wajar dan mulia. Jadi saya tidak mengerti itu dianggap sebagai sindiran kepada SBY.
Saya berharap KPU mencermati DPT. Pesawat jatuh dan TKW dianiaya, itu adalah fakta yang sudah diketahui bersama.
Anda merasa ada sesuatu yang salah?Kesalahan saya adalah karena saya terlalu konfiden menggangap para calon pemimpin bangsa sebagai demokrat sejati. Ciri-ciri demokrat sejati adalah bisa diajak bercanda dan menerima kritik. Ternyata saya keliru. Saya terlalu over estimate. Jadi saya tidak ingin menyalahkan orang lain tetapi aku yang salah.
Monolog Anda dinilai tidak tepat tampil di Deklrasi Pemilu Damai?Soal tempat, jangan salahkan aku tetapi orang yang menempatkan aku di situ. Bertanyalah pada orang yang menempatkan aku.
Siapa yang menentukan tema monolog itu?Soal tema, aku menafsir platform yang memberi pekerjaan aku.
Katanya Anda 'dibungkam' usai acara tersebut?Saya dibungkam? Tidak ada. Klarifikasi dari pihak SBY juga tidak ada. Tidak ada apa-apa. Habis kerja ya pulang.
Ada hujatan yang Anda terima?Hujatan ada melalui facebook, sms, dan email. Aku ucapkan terima kasih kepada mereka. Karena tampil monolog di acara seperti itu, reaksinya cuma dua, yaitu senang dan tidak senang.
(gds/djo)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca juga :
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Nuniek di nuniek[at]detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.526).