Rabu, 03/12/2008 15:30 WIB
Polisi Jadi Beking Judi
Jenderal Polisi Terperangkap Bisnis Haram Acin
Deden Gunawan - detikNews
Jakarta -
Enam perwira tinggi polisi masuk dalam pengawasan Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri. Mereka diduga selama ini menjadi beking judi toto gelap (togel) di Riau. Sejauh ini Mabes Polri belum menyebut nama, tapi hanya mengatakan para perwira tersebut saat ini menjabat sebagai Kapolda dan Wakapolda.
"Ada 3 Kapolda dan 3 Wakapolda yang dulunya berpangkat komisaris besar," begitu kata Inspektur Pengawasan Umum Mabes (Irwasum) Polri Komjen Pol Jusuf Manggabarani saat ditanya wartawan.
Pemeriksaan enam petinggi polisi tersebut diduga terkait penggerebekan judi togel di Riau yang beromzet Rp 3 miliar yang 'dibandari' Candra Wijaya alias Acin (45). Pria keturunan Tiongkok ini sejak tiga tahun terakhir dikenal sebagai bos togel di Riau yang memiliki jaringan hingga mancanegara.
Dalam menjalankan bisnis haramnya, Acin menyewa sebuah ruko berlantai 3 di Jalan Tanjung Datuk, Pekanbaru, untuk dijadikan markas. Namun sebulan lalu, bisnis haram yang dijalankan Acin tersebut dibongkar Polda Riau. Di ruko tersebut berhasil disita 200 nomor rekening untuk transaksi judi.
Tertangkapnya Acin tentu mengejutkan sebagian besar warga Riau. Sebab selama ini bisnisnya nyaris tidak pernah tersentuh. Sebab ia disebut-sebut rajin memberi setoran kepada polisi. Apalagi bos Acin yang bernama DH juga tidak pernah tertangkap hingga sekarang sekalipun telah merajai bisnis judi di Riau sejak 2001.
Sebelum Acin meraih julukan raja judi togel di Riau, tahta tersebut sempat disematkan kepada DH. Namun sejak 2006, ketika bisnis judi jackpot, bolatangkas dan togel yang dikelolanya digerebek polisi pada 2005, DH kemudian beralih profesi jadi pengusaha kelapa sawit dan hiburan malam. Hancurnya bisnis judi DH akibat instruksi perang melawan judi yang digelorakan Kapolri saat itu Jenderal Pol Sutanto.
Setelah ada instruksi itu, Rabu 20 Juli 2005,silam, polisi melakukan penyitaan terhadap 1.200 mesin jackpot. Sejak itu arena judi yang dikelola DH berhenti beroperasi. Meski demikian, DH tidak pernah ditangkap polisi, apalagi sampai masuk sel. Kemudian DH mewarisi tahta raja togel tersebut kepada Acin, orang kepercayaannya. Begitu mendapat kepercayaan, Acin pun langsung menggelar judi sie jie alias togel.
Awalnya jaringan togel yang dikelola Acin hanya di wilayah Riau dan sekitarnya. Namun lama kelamaan ia melebarkan sayap hingga ke seluruh Sumatera. Bahkan setahun belakangan jaringannya hingga ke Singapura dan Malaysia. Omzetnya pun langsung menanjak hingga mencapai Rp 3 miliar per hari. Itu sebabnya ia semakin royal kepada sejumlah aparat di Riau. Tujuannya hanya satu: agar bisnis yang bergelimang uang itu tetap tanpa ada gangguan.
Kabarnya, secara rutin Acin menebar bau-bau surga dunia. Dia menyetorkan uang kepada polisi, mulai tingkat Kapolsek hingga Kapolda. Nilainya tentu saja beragam. Untuk Kapolda, Acin setiap bulan rutin menyetor Rp 100 juta. Sementara Kapolwiltabes kebagian Rp 50 juta. Tingkat Kapolres disawer Rp 10 juta, sedangkan untuk Kapolsek Rp 5 juta. Aha!
Wajar jika bisnis haram Acin bisa aman-aman saja sekalipun Kapolda di Riau telah silih berganti. Beberapa jenderal yang mejabat di Riau sejak 2002 hingga 2008, adalah Brigjen Pol Joni Joyana, Brigjen Pol Dedi S Komaruddin, Brigjen (Pol) S Damanhuri, Brigjen Pol Ito Sumardi, dan Brigjen Pol Sutjiptadi. Dalam rentan waktu tersebut, polisi memang beberapa kali melakukan penangkapan terhadap bandar-bandar judi. Namun yang ditangkap hanya bandar kelas teri.
Tapi belakangan Acin tidak bisa berkutik ketika Brigjen Pol Hadiatmoko menjabat orang nomor satu di Polda Riau. Pertengahan Oktober 2008, sarang perjudian Acin di Jl Tanjung Datuk akhirnya digerebek. Ia pun digiring ke sel tahanan Polda Riau.
Begitu Acin tertagkap, mencuatlah nama-nama perwira tiggi polisi yang diduga kuat nyambi sebagai beking judi. Sebagian dari mereka saat ini menjadi Kapolda. Sebagian lainnya menjabat Wakapolda.
Kapolda Sumatera Selatan Ito Sumardi, yang sebelumnya sempat menjadi Kapolda Riau membantah tegas jika dirinya main mata dengan para bandar judi. Ia juga mengelak jika dikatakan telah menerima uang setoran dari Acin "raja togel' di Riau. Apalagi, sanggah dia, sosok Acin tidak pernah dikenalnya.
"Demi Allah saya tidak tahu, itu (jadi beking judi) karangan. Waktu jadi Kapolda Riau saya memberantas judi dan illegal logging. Masa saya main-main di sana dan kemudian dapat bintang dua," begitu Ito menegaskan kepada detikcom.
Sementara Kadiv Propam Mabes Polri Irjen Pol Alentin Simanjuntak mengatakan, selain 6 perwira tinggi, ada juga 60 perwira menengah, 15 AKBP, 26 komisaris polisi, 46 perwira pertama dan 7 bintara yang diduga terlibat kasus judi. Mereka, kata Alentin, terindikasi menjadi beking bos judi. Sejumlah anggota korps berseragam cokelat ini kemudian dimutasi ke daerah lain. Polisi-polisi pembeking judi tersebut selama ini diduga main kucing-kucingan dengan teman satu korpsnya yang berusaha menangkapi para bandar judi.
Sekalipun telah memeriksa sejumlah perwira dan bintara, kata Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta Sanusi Pane masih menunggu tindak lanjut polisi. Sebab, pengumuman adanya polisi yang jadi beking judi perlu dicermati. Baru kali ini polisi mengumumkan anggotanya yang terima setoran dari bos judi. Biasanya yang diumumkan hanyalah anggota polisi yang tersandung kasus narkoba atau disersi.
"Kalau ingin dianggap polisi memang sungguh-sungguh melakukan penindakan tegas terhadap anggotanya yang jadi beking judi, harus ada progress untuk menyebutkan siapa saja yang diduga terlibat kemudian mereka diseret ke pengadilan," tantang Neta.
Menurut Neta, peran Kapolda dalam membekingi judi di suatu daerah sangat mungkin terjadi. Apalagi togel merupakan jenis perjudian yang bersifat massal, sehingga mudah untuk diketahui dan ditelusuri siapa bandar besarnya.
"Bagaimana mau membongkar jaringan teroris kalau mengusut jaringan judi togel saja polisi tidak bisa dan berlagak tidak tahu. Jadi kalau ada Kapolda yang mengaku tidak tahu bila di wilayahnya ada praktik judi togel jelas tidak masuk akal. Itu polisi bloon namanya," tegas Neta.
Neta juga mencurigai ada niat tidak baik dari Mabes Polri dalam menangani para pembeking judi. Ia memperkirakan kasus pembekingan judi ini pelan tapi pasti akan menghilang tanpa penyelesaian. Sebut saja kasus 5 rekening perwira polisi yang dianggap PPATK mencurigakan. Begitu juga dengan kasus korupsi proyek alat komunikasi (alkom) dan jaringan komunikasi (jarkom). Akankah kasus para jenderal polisi yang jadi beking judi bakal bernasib sama? Kita tunggu saja.
(ddg/asy)
Baca juga :
SMS Iklan
for sale jalan dago bandung luas 3000 m2 harga 45 milyar nego. (+62818430085)
Redaksi: redaksi[at]staff.detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Elin Ultantina di iklan[at]detiknews.com,
telepon 021-7941177 (ext.524).