Senin, 01/12/2008 05:40 WIB
Supersemar Beredar di Internet
Sejarahwan: Sulit Buktikan Keaslian karena yang Asli Belum Ketemu
Aprizal Rahmatullah - detikNews
(Foto: karodalnet.blogspot.com)
Jakarta -
Beredarnya naskah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) di internet masih diragukan keasliannya. Keaslian naskah tersebut masih sulit dibuktikan karena naskah asli Supersemar masih misterius .
"Saya kira karena belum ketemu yang asli, ini masih sulit," ujar sejarahwan Asvi Warman Adam saat dihubungi
detikcom, Minggu(30/11/2008).
Asvi menambahkan, bahwa naskah yang tersebar di internet ditemukan banyak kejanggalan. Kejanggalan yang paling jelas bisa dilihat dari penggunaan dua lambang untuk satu surat.
Dalam suatu keputusan resmi yang dikeluarkan Presiden biasanya hanya menggunakan lambang padi dan kapas. Sedangkan dalam naskah tersebut terdapat ada dua lambang yang dipakai yaitu padi dan kapas (tepat di tengah naskah) dan garuda (disamping kiri atas).
"Seyogyanya hanya satu lambangnya saja, yaitu lambang padi kapas. Kalau Garuda Pancasila itu biasanya buat departemen," tambahnya.
Kejanggalan lainnya terdapat dalam penggunaan ejaan. Dalam naskah Supersemar versi online tertera penulisan ejaan baru seperti 'u' untuk 'oe' seperti nama Presiden Soekarno ditulis 'Sukarno'.
Penggunaan ejaan baru pada naskah tersebut dinilai janggal oleh Asvi. Menurutnya, pada tahun 1966 Indonesia belum menggunakan ejaan baru.
"Kita baru menggunakan ejaan baru tahun 1972, sedangkan di dalam naskah tersebut tertulis tahun 1966," jelas peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini.
Selain itu, pada waktu itu naskah biasanya diperbanyak dengan stensil. Karena, belum ada mesin fotokopi pada tahun 1966.
(ape/nwk)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca juga :
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Nuniek di nuniek[at]detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.526).