Laporan Khusus Lain

Indeks Laporan Khusus




Jumat, 28/11/2008 17:25 WIB
JK The Real President
Tak Katrol JK, Bisa Untungkan Mega
Deden Gunawan, Ronald Tanamas - detikNews

Jakarta - Penyataan Syafi'i Ma'arif soal Jusuf Kalla the real president dinilai bermuatan politik. Beberapa kalangan menduga pernyataan tersebut bisa memecah belah duet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK).

Yang diuntungkan dari perpecahan tersebut adalah lawan duet tersebut di pilpres 2009. Salah satu lawan politik yang bakal diuntungkan di antaranya adalah Megawati. Asumsinya dengan perpecahan tersebut, Megawati bakal dengan mudah menuju istana. Sebab rival terberatnya saat ini hanyalah duet SBY-JK.

Dugaan PDIP diuntungkan dengan pernyataan Syafi'i dilatarbelakangi kedekatan mantan Ketua PP Muhammadiyah itu dengan Megawati. Mejelang Pemilu 2004 nama Syafi'i sempat disebut-sebut bakal mendampingi Megawati. Dalam diskusi di antara pimpinan PDIP saat itu nama Syafi'i paling banyak disebut. Tapi petanya kemudian berubah ketika PDIP kemudian memilih untuk menyandingkan Megawati dengan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi.

Tapi bukan berarti hubungan Syafi'i dengan PDIP menjadi renggang. Sebab Maret 2007, Syafi'i digandeng PDIP untuk memegang Baitul Muslimin Indonesia (BMI) yang dibentuknya.

Apakah hubungan dekat tersebut yang melatarbelakangi pernyataan Syafi'i, sehingga bisa menguntungkan Megawati? Syafi'i saat dimintai tanggapanya tidak mau berkomentar. "Saya sedang batuk," kata Syafi'i lewat SMS-nya.  

Sedangkan pengamat politik Andrinof Chaniago menolak asumsi tersebut. "Itu hanya asumsi yang bersifat spekulasi saja. Tanya saja ke orang partai soal spekulasi-spekulasi seperti itu," jawabnya.

Sementara Lili Romli, pengamat politik lainnya mengatakan, asumsi itu bisa saja terjadi. Sebab pernyataan Syafi'i terkait JK the real president sudah menjadi bola liar. Sehingga mungkin saja ada  yang memanfaatkan pernyataan tersebut.

"Sekarang pernyataan Syafi'i sudah mejadi bola liar. Siapapun bisa memanfaatkan pernyataan tersebut," ujar Lili saat dihubungi detikcom.

Namun Lili melihat pada dasarnya Syafi'i tidak ada maksud untuk meguntungkan siapapun terkait pernyataanya tersebut. Sebab Syafi'i hanya mengungkapkan realita yang terjadi.

Pandangan berbeda justru dikatakan kubu SBY. Menurut Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, pihaknya tidak melihat jika pernyataan Syafi'i akan menguntungkan Megawati dan PDIP. Tapi yang merasa diuntungkan justru JK. "Yang sumringah degan pernyataan itu JK," ujarnya.

Meski demikian, bukan berarti pernyataan itu berimplikasi pada peningkatan popularitas JK. Sebab, kata Mubarok, dari sejumlah survei popularitas SBY tetap masih berada di puncak hasil survei.

Hal senada juga dikatakan Muhammad Qodari dari Indo Barometer. Menurut pandangannya, pernyataan Syafi'i tidak berpegaruh apa-apa terhadap popularitas JK. Karena pernyataan yang dilontarkan Syafi'i sudah menjadi rahasia umum sejak lama. Namun sampai sekarang dari hasil survei nama JK tidak pernah berubah di urutan bawah.

Sementara JK menganggap biasa-biasa saja kalau diriya disebut the real president. Malah ia menyebut dirinya the real vice president. "Lebih tepat saya the real vice president karena UUD menyatakan wapres membantu menjalankan kekuasan pemerintah," kata JK di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, 28 November 2008.

Alasannya, ia justru tidak merasa enak kalau dirinya justru tidak bekerja sama sekali. Ia pun merasa hanya bekerja sesuai arahan dan keputusan yang telah disepakati Presiden SBY.(ddg/iy)
Komentar terkini (3 Komentar)

Baca juga :

SMS Iklan

for sale jalan dago bandung luas 3000 m2 harga 45 milyar nego. (+62818430085)

Redaksi: redaksi[at]staff.detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Elin Ultantina di iklan[at]detiknews.com,
telepon 021-7941177 (ext.524).