Jumat, 28/11/2008 09:35 WIB
JK The Real President
Pernyataan Syafi'i Mudah Dipolitisir
Deden Gunawan, Ronald Tanamas - detikNews
Jakarta -
Pernyataan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafi'i Ma'arif yang menyebut Jusuf Kalla "the real president" mengundang polemik. Pasalnya tidak biasanya cendekiawan muslim tersebut menyatakan secara vulgar tentang dunia politik. Apalagi sampai menyebut nama.
Dari pernyataanya kemudian berkembang sejumlah persepsi. Ada yang bilang pernyataan itu adalah akumulasi kekecewaanya terhadap kepemimpinan SBY. Ada juga yang bilang Syafi'i kepincut kepada JK. Malah ada yang menduga Syafi'i hanya ingin mengadu domba antara JK dengan SBY.
Bagi Syafi'i, kontroversi terhadap pernyataannya adalah wajar. "Dalam demokrasi kontroversi wajar saja asal disampaikan dengan jujur dan faktual," jelas Syafi'i saat dihubungi detikcom.
Namun ia membantah tegas bila pernyataannya tersebut bertujuan ingin mengadu domba antara JK dan SBY. Ia pun meminta pernyataanya tersebut jangan diplintir sehingga keluar dari konteks. Alasannya peta politik saat ini sedang berubah dengan cepat.
"Mohon jangan mengada-ada. Peta politik sedang berubah dengan cepat," tegas Syafi'i, tanpa menjelaskan perubahan seperti apa yang bakal terjadi.
Yang jelas, kata Syafi'i, pernyataan yang dilontarkannya itu berdasarkan kondisi di lapangan terutama dari orang-orang yang ada di lingkungan istana. Dan kondisi ini juga bisa terlihat secara kasat mata oleh masyarakat umum.
Sebenarnya, kata pengamat politik Muhammad Qodari, pernyataan Syafi'i bersifat normatif. Dan kenyataanya masyarakat memang melihat kinerja JK di pemerintahan jauh lebih menonjol di banding SBY. Namun peryataan itu menjadi ramai karena Syafi'i menyebut nama. Padahal sebelumnya, peraih Magsasay Award tersebut tidak pernah menyebut nama bila memberikan iimbauan atau kritikan.
"Dominasi JK dalam pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, sudah jadi rahasia umum. Jadi Syafi'i hanya menyampaikan pengamatannya di masyarakat," jelas Direktur Eksekutif Indo Barometer tersebut kepada detikcom.
Qodari juga tidak sependapat dengan anggapan yang mengatakan kalau pernyataan Syafi'i ada motif politik tertentu. Apalagi bila dianggap mengadu domba. Pasalnya, imbuh Qodari, selama ini kiprah Syafi'i lurus-lurus saja alias netral dari kepentingan politik manapun.
"Yang saya tahu, Buya Syafi'i dari dulu tidak pernah mau bersinggungan dengan politik praktis. Kehidupannya dari dulu netral," beber Qodari.
Pendapat senada juga dikatakan, Andrinof Chaniago, pengamat kebijakan publik. Kata Andrinof, tidak ada yang salah dari pernyataan Syafi'i Ma'arif tentang JK yang dianggap sangat bekerja keras dalam pemerintahan.
Menurut Andrinof, memang seharusnya SBY lebih progresif dari gayanya saat ini. Jangan terlalu banyak ngerem. Sebab banyak persoalan bangsa yang harus dilakukan dengan segera. "Sebenarnya pernyataan Syafi'i itu untuk lebih menyolidkan duet SBY-JK. Bukan ada maksud apa-apa," ujar Andrinof.
Tapi, kata Andrinof, perbedaan itu memang tidak perlu dibesar-besarkan. Sebab masing-masing punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Itu sebabnya SBY-JK diharapkan menjadi dwitunggal dalam kepemimpinan bangsa Indonesia ke depan.
Untuk itu, Andrinof meminta kepada Syafi'i Ma'arif jangan memberikan pernyataan yang multitafsir sehingga mengundang polemik. Takutnya, pernyataan tersebut jadi bahan politisasi oleh kelompok tertentu.
"Jangan sampai ada kesan Syafi'i Ma'arif sebagai guru bangsa terkesan membela kelompok tertentu. Ini akan dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk dipolitisasi," harap Andrinof.
(ddg/iy)
Baca juga :
SMS Iklan
for sale jalan dago bandung luas 3000 m2 harga 45 milyar nego. (+62818430085)
Redaksi: redaksi[at]staff.detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Elin Ultantina di iklan[at]detiknews.com,
telepon 021-7941177 (ext.524).