Kamis, 27/11/2008 17:25 WIB
JK The Real President
Ada Apa dengan Buya?
Deden Gunawan - detikNews
Jakarta -
Syafi'i Ma'arif kini sedang panas dingin. Ia sakit demam. Kritikan melalui telepon, SMS dan media massa kini menghujani mantan Ketua PP Muhammadiyah tersebut. Kritik-kritik itu terkait pernyataannya yang menyebut Wapres Jusuf Kalla "the real president".
"Mohon maaf saya sedang sakit. Saya batuk dan demam. Sekarang saya ada di rumah. Kalau ada pertanyaan tolong di sms saja mas. Nanti kalo sudah mendingan saya balas sms-nya," jelas Syafi'i ketika detikcom hendak wawancara dirinya, Kamis 27 November 2008.
Syafi'i Ma'arif saat ini memang sedang jadi sorotan. Hal ini terkait pernyataannya di acara forum kajian sosial kemasyarakatan, 26 November lalu. Saat itu cendekiawan muslim tersebut mengatakan kalau di pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu yang paling dominan adalah Wapres Jusuf Kalla, bukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Karena peran yang dominan tersebut Syafi'i mendaulat JK sebagai "the real president". Tidak hanya itu, ibarat kendaraan, kata Syafi'i, JK berperan sebagai gas dan SBY hanya sebagai rem.
Wajar jika pernyataan peraih Magsasay Award tersebut kemudian menimbulkan polemik. Soalnya, tidak biasanya Buya, sebutan akrab Syafi'i menyatakan kritik secara terbuka. "Biasanya kritikan Buya memakai kata sindiran. Tidak langsung menyebut nama," kata pengamat politik Muhammad Qodari kepada detikcom.
Qodari mencontohkan ketika Abdurahman Wahid alias Gus Dur didesak mundur oleh sejumlah kalangan, tahun 2001. Saat itu, Syafi'i tidak langsung mendesak Gus Dur, ia hanya menyatakan diperlukan kearifan dan keikhalasan.
"Oleh karena itu, diperlukan adanya kearifan dan keikhlasan serta kenegarawanan untuk secara legowo memungkinkan terjadinya upaya penyelamatan kepemimpinan nasional secara konstitusional," kata Syafii Ma'arif, menyikapi kekuasaan Gus Dur yang dianggap sudah tidak punya ligitimasi lagi.
Beberapa pernyataan-pernyataan atau kritik Syafi'i, menurut Qodari lebih kepada sindiran atau kias tidak langsung menyebut nama orang. Sehingga tidak mengundang polemik seperti sekarang. "Tapi saat ini Buya sampai menyebut nama. Hal inilah yang menjadi ramai," terang Qodari.
Apakah pernyataan Syafi'i merupakan akumulasi kekecewaanya terhadap SBY, sehingga ia keceplosan atau sengaja menyebut nama seseorang? "Saya kira arahnya bukan ke sana. Tapi Syafi'i mungkin saja berharap pemimpin Indonesia punya ketegasan dan kecepatan dalam bertindak. Kemudian ia memberi contoh, salah satunya Jusuf Kalla," jelas Direktur Eksekutif Indo Barometer tersebut.
Pastinya, peryataan yang tidak biasa dari seorang Syafi'i Ma'arif disayangkan para pendukung SBY, Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Sebab, kata Anas, Syafi'i selama ini dikenal sebagai orang yang arif dan mendalam pemikirannya. Tapi dengan pernyataannya tentang 'JK the real president', Syafi'i dianggap kurang arif.
Sebab dengan pernyataan itu akan menimbulkan sakwasangka dari pendukung JK maupun SBY. "Pernyataan Buya Syafi'i dapat menimbulkan perasaan saling tidak enak. Sebab pernyataan tersebut bukan berdasarkan fakta yang memadai, lebih cenderung spekulatif," kata Anas.
Sementara dugaan Direktur Eksekutif Center for Information and Development Studies (CIDES), Syahganda Nainggolan lebih jauh lagi. Menurutnya, pernyataan Syafi'i Ma'arif merupakan upaya adu domba terhadap pasangan SBY-JK.
Kata Syahganda, pernyataan tersebut adalah skenario untuk memuluskan kandidat tertentu yang ingin akan bertarung di pilpres. Salah satunya adalah Amien Rais. Sebab Amien Rais dianggap masih ngebet mencalonkan diri sebagai capres. Tapi peluangnya sangat tipis dibanding pasangan SBY-JK yang akan menghadapi Megawati.
Namun jika duet SBY-JK pecah peluang Amien jadi terbuka. "Jika duet SBY dan JK retak, maka Amien Rais akan muncul. Sebab JK tanpa SBY tidak ada apa-apanya. Begitu juga sebaliknya, SBY tanpa JK tentu semakin kesulitan untuk menghadapi Megawati Soekarnoputri, capres dari PDIP.
Adanya kepentingan politik di balik pernyataan Syafi'i juga muncul dari kubu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Syafi'i pun dituding telah melakukan kompromi politik dengan pernyataannya tersebut.
"Kalau tidak ada kompromi politik rasanya tidak mungkin. Sebab tidak biasanya Syafi'i menyebut nama. Jadi PDIP menganggap ada deal-deal tertentu di balik ucapan itu," sangka Ketua FPDIP Tjahjo Kumolo saat dihubungi detikcom.
Tjahjo memandang wajar bila ada cendekiawan seperti Syafi'i Ma'arif memberikan dukungan kepada salah satu kandidat presiden ke depan. Tapi dukungannya ke capres yang mana, Tjahjo mengaku belum tahu. "Lihat saja nanti arahnya kemana," pungkasnya.
(ddg/iy)
Baca juga :
SMS Iklan
for sale jalan dago bandung luas 3000 m2 harga 45 milyar nego. (+62818430085)
Redaksi: redaksi[at]staff.detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Elin Ultantina di iklan[at]detiknews.com,
telepon 021-7941177 (ext.524).