Laporan Khusus Lain

Indeks Laporan Khusus




Selasa, 25/11/2008 16:31 WIB
Waspadai Penculikan Anak
Ekonomi Menghimpit, Penculik Meningkat
Deden Gunawan - detikNews

Jakarta - Orang tua Nanda Delia dan Shelgy Nursyahbani siswi SDN Percontohan Tamansari, Jakarta Barat, kini bisa bernafas lega. Sebab sebelumnya anak-anak mereka sempat diculik oleh orang tidak dikenal sepulang sekolah, Senin 24 November, kemarin.

Beruntung ulah sang penculik tidak membahayakan nyawa kedua bocah tersebut. Pelaku yang diduga seorang wanita paruh baya tersebut, hanya membawa Egy dan Nanda ke Mal Kalibata. Setelah itu pelaku memereteli perhiasan yang dipakai dua bocah itu dan meninggalkan mereka di mal tersebut.

Sejauh ini Polsek Tamansari menetapkan kalau kasus penculikan tersebut bermotif ekonomi, yakni hanya ingin merampas perhiasan milik korban. Belum ada indikasi-indikasi lain. Apalagi jika diasumsikan terkait dengan sebuah sindikat.

Tapi yang jelas,  kasus penculikan terhadap dua siswi sekolah dasar tersebut menambah panjang daftar penculikan terhadap anak-anak. Hal tersebut tentu menjadi kekhawatiran para orang tua.

Meski demikian, menurut pandangan kriminolog Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala, Kasus yang menimpa Agy dan Nanda bukan kasus penculikan. Dalam kriminologi, penculikan merupakan sebuah aksi yang dilakukan dengan cara menyekap korbannya beberapa hari serta meminta tebusan kepada keluarga korban.

"Kalau dalam kasus dua anak SD di Tamansari itu bukan penculikan. Tapi tindak perampasan," jelas Adrianus saat berbincang-bincang dengan detikcom.

Ia juga menjelaskan, sebenarnya aksi kriminalitas terhadap anak-anak belum sampai pada tingkat mengkhawatirkan. Jadi masayarakat jangan menyeramkan diri dengan kasus-kasus yang menimpa anak-anak.

Sementara mengenai peningkatan jumlah kasus kejahatan terhadap anak-anak, Adrianus berkata, peningkatan tersebut terkait populasi anak-anak yang juga meningkat. "Karena jumlah anak semakin banyak maka kejahatan anak-anak juga meningkat. Karena takut dengan orang dewasa, pelaku kriminal kemudian mencari sasaran anak-anak," ulasnya.

Tapi pandangan Adrianus yang menganggap kasus penculikan dan kriminalisasi terhadap anak biasa-biasa saja, dibantah Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW)Neta Sanusi Pane. Menurutnya, kejahatan terhadap anak, baik penculikan, perampasan, atau perdagangan anak harus disikapi secara serius. Apalagi kondisi
ekonomi yang tidak menentu seperti sekarang ini.

"Karena desakan ekonomi kemungkinan akan mendorong terjadinya tindak kriminal. Dan anak-anak sangat rawan jadi korban. Sebab menjadi sasaran yang mudah," tegas Neta kepada detikcom.

IPW juga meminta kepada polisi untuk proaktif mendatangi sekolah untuk memberi penjelasan kepada orang tua, guru dan siswa akan tindak kriminal yang bakal mengancam anak-anak. Dengan demoikian,  polisi bukan hanya bertindak sebagai pemadam kebakaran, yang baru datang bila api sudah melalap bangunan. Tapi polisi harus bisa mencegah supaya peristiwa yang merugikan itu bisa dihindari.

Menurut pengamatan IPW, saat ini kejahatan anak-anak yang masuk dalam kategori mengkhawatirkan yang dilakukan oleh sindikat perdagangan anak serta pelaku penculikan.

Khusus untuk penculikan, diprediksi bakal meningkat karena kondisi ekonomi masyarakat yang sekarang sangat menghimpit. Sehingga akan muncul beberapa pelaku penculik anak yang mengharapkan uang tebusan dari orang tua.

Sementara Data di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan, selama tahun 2008 praktik kekerasan terhadap anak  mengalami peningkatan sampai 300 persen, dari tahun sebelumnya. Dari 4.398.625 kasus menjadi sebanyak 13.447.921 kasus pada tahun 2008 .

Berbagai jenis dan bentuk kekerasan dengan beragam variannya diterima anak-anak Indonesia, seperti pembunuhan, pemerkosaan, pencabulan, penganiayaan, trafficking, aborsi, paedofilia, dan berbagai eksploitasi anak di bidang pekerjaan penelantaran, penculikan, pelarian anak, penyanderaan, dan sebagainya.

Dari sejumlah kasus kekerasan anak yang terjadi, kasus penculikan dengan motif perdagangan anak yang paling dikhawatirkan KPAI.  Terutama untuk dipekerjakan di jalanan, pekerja seks komersial anak, serta perdagangan organ tubuh.

(ddg/iy)
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Baca juga :

SMS Iklan

for sale jalan dago bandung luas 3000 m2 harga 45 milyar nego. (+62818430085)

Redaksi: redaksi[at]staff.detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Elin Ultantina di iklan[at]detiknews.com,
telepon 021-7941177 (ext.524).