Rabu, 19/11/2008 17:24 WIB
Ical Pensiun dari Politik
Kapok Karena Sering Nombok
Deden Gunawan - detikNews
Jakarta -
Aburizal Bakrie berniat mengakhiri karir politiknya. Siapapun presiden hasil Pemilu 2009, Ical, panggilan akrabnya, tidak akan ikut-ikutan dalam kabinet.
Niat mundurnya Ical dari gelanggang politik diutarakannya saat wawancara dengan Majalah Forbes pekan lalu. Juru Bicara keluarga Bakrie, Lalu Mara memastikan rencana pensiun Ical tersebut.
Menurut Lalu Mara, Ical tidak ingin lagi berkecimpung dalam bidang politik dan pemerintahan. Alasannya, ia akan menghabiskan waktu untuk keluarga dan mengurus yayasan sosial keluarga.
Niat mundurnya Ical dari ranah politik tentu mengundang banyak persepsi. Apalagi Ical bukan orang sembarangan. Selain menjadi menteri Ical tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia. Pria ini juga mempunyai jabatan mentereng di Golkar yang sampai saat ini masih terhitung sebagai partai besar. Menko Kesra ini menjadi anggota Dewan Penasihat DPP Partai Golkar.
Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) Universitas Gajah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar mengaku heran dengan pernyataan mundur tersebut. Sebab kata, Zainal, akumulasi kekayaan Ical saat terlibat di Kabinet Indonesia Bersatu sangat luar biasa besar.
Kekayaan Ical tahun 2007 mencapai US$ 5,4 miliar, atau mengalami peningkatan dari US$ 1,2 miliar pada tahun 2006. Penyumbang terbesar peningkatan kekayaan ical adalah lonjakan harga saham perusahaan batubara Bumi Resources milik Bakrie Group.
Karena kekayaannya yang berlimpah Ical kemudian didaulat sebagai orang terkaya nomor satu di Indonesia versi majalah Forbes Asia. Sebelumnya, Ical menduduki peringkat enam dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi majalah yang sama.
Tapi bagi pengamat politik LIPI Lili Romli, langkah pensiun dari politik yang dilakukan Ical merupakan langkah yang tepat. Ical memang sudah semestinya konsentrasi terhadap perusahaannya yang kini banyak dibelit masalah.
"Ia lebih baik konsen pada kegiatan sosial dan mengurusi perusahaannya dibandingkan aktif di politik," kata Lili.
Kejayaan bisnis grup Bakrie milik keluarga Ical saat ini memang sedang redup. Terakhir harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merosot tajam. Selain faktor bursa global, penurunan tajam saham-saham grup Bakrie masih didorong aksi gadai saham yang kini sebagian sudah mengalami gagal bayar.
Akibatnya, harga saham Bumi yang sempat mencapai harga Rp 8.500-an per lembar belakangan melorot hingga di bawah Rp 1.000. Bahkan pada Rabu (19/11/2008), harga saham BUMI hanya Rp 860.
Anak-anak usaha grup Bakrie sebelumnya sempat dikenai suspensi alias penghentian sementara perdagangan saham pada 7 Oktober 2008 karena harganya turun tajam. Tiga anak usaha grup Bakrie yakni Bakrie Telecom (BTEL), Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) dan Bakrieland Development (ELTY) sudah dibuka terlebih dahulu.
Sementara BUMI, Energi Mega Persada (ENRG) dan Bakrie & Brothers (BNBR) masih disuspensi. BUMI dibuka pada 6 November, sementara ENRG dan BNBR dibuka pada 18 November.
Namun suspensi BUMI tidak berjalan mulus. Pencabutan suspensi sempat dibatalkan karena adanya permintaan pemerintah. Suspensi itupula yang memunculkan isu mundurnya Menkeu Sri Mulyani. Pasalnya Menteri Keuangan Sri Mulyani menolak suspensi terus menerus terhadap saham Bumi. Karena konflik tersebut Sri Mulyani dikabarkan sempat meminta mundur.
Sebelum rontoknya harga saham grup Bakrie, Ical juga jadi bulan-bulanan terkait lumpur di Lapindo yang diduga disebabkan oleh pengeboran yang dilakukan PT Minarak Lapindo Jaya, anak perusahaan grup Bakrie.
Seakan tak habis dirundung masalah, setelah Lapindo dan saham BUMI, giliran masalah menimpa usaha Bakrie lainnya, PT Bakrie Pipe Industries. Perusahaan ini diduga terlibat kasus koruspi dalam proyek pipanisasi PT Perusahaan Gas Negara. Senin, 11 November lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah memeriksa Direktur Utama Ade Erlangga dan Kepala Bagian Pemasaran Untung Yusuf.
Yang teranyar, Bakrie berkonflik dengan Majalah Tempo. Hal tersebut dipicu pemberitaan majalah tersebut di edisi 17-23 November 2008. Menurut juru bicara keluarga Bakrie, Lalu Mara Satriawangsa, berita yang dimuat Tempo tidak cover both side. Sehingga berita tersebut dianggap sebagai fitnah dan pembunuhan karakter
untuk Ical. Karena pemberitaan tersebut Bakrie pun menempuh jalur hukum.
Ada dugaan 'badai' yang terus-menerus menghantam kelompok Bakrie lah yang membuat Ical mengakhiri karir politiknya. "Ical kapok dan tobat menghadapi politik saat ini. Sebab sekalipun telah menyokong dana politik tidak banyak membantu kepentingannya, dia nombok terus" jelas pengamat politik J Kristiadi kepada detikcom.
Sebagai seorang pengusaha, kata Kristiadi, tentu bertujuan meraup keuntungan. Sementara dalam politik yang menjadi tujuan adalah cita-cita. Nah, ketika tujuan itu tidak ketemu, Ical menjadi tidak kerasan di dunia politik. Apalagi ongkos yang harus dikeluarkan untuk mamasok dana politik sangat besar, sedangkan keuntungan yang didapat tidak sebanding.
"Sebenarnya sudah sejak lama Ical tidak kerasan menduduki jabatan politik. Ia mengalami konflik kejiwaan saat duduk di kabinet," ujar Kristiadi.
Dengan mundurnya Ical dari gelanggang politik, Kristiadi berharap, para pengusaha atau saudagar dapat mengambil pelajaran. Sebab saat ini tidak akan mudah mengambil balas budi dalam politik. Sebab saat ini era keterbukaan dan adanya kebebasan pers.
Tapi dugaan mundurnya Ical lantaran banyaknya masalah yang dihadapi keluarga Bakrie belakangan ditampik Lalu Mara, jubir keluarga Bakrie. Ia menegaskan kalau Ical memang berniat mundur supaya lebih fokus mengurusi keluarga dan kegiatan amal.
"Alasan mundurnya Ical yang benar seperti dimuat di Majalah Forbes. Bukan masalah yang saat ini dihadapi Grup Bakrie," jelas Lalu saat dihubungi detikcom.
Sementara Durektur Pukat UGM Zaenal Arifin Muchtar mengatakan, apapun alasannya, niat mundurnya Ical dari pemerintahan mendatang harus didorong. Hal ini agar ke depan menteri-menteri Indonesia lebih profesional atau punya kapabilitas. Bukan berdasarkan utang politik.
(ddg/iy)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca juga :
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Nuniek di nuniek[at]detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.526).