Yogyakarta -
Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan siap maju pilpres 2009. Dia pun mengusung slogan 'Apa Bisa Tahan?' Slogan yang dipasang di kanan kiri panggung budaya itu sebagai ungkapan Sultan yang merasa sudah tidak tahan dengan kondisi rakyat Indonesia setelah 10 tahun reformasi.
Dia menyatakan ingin berubah dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama melakukan perubahan.
Hal itu diungkapkan Sultan menjawab pertanyaan wartawan seusai acara Pisowanan Agung di Alun-alun Utara Yogyakarta, Selasa (28/10/2008).
"Ingin ada perubahan. Saya tidak tahan dengan penderitaan masyarakat, rakyat tetap miskin dan menganggur. 10 Tahun reformasi tidak ada perubahan fundamental yang mengubah bangsa ini untuk maju, sejahtera dan pemerintah yang akuntabel," katanya.
Dia mengatakan selama negara dan bangsa seperti itu, bangsa Indonesia tidak akan kompetitif menghadapi tantangan masa depan. Oleh karena harus mengubah strategi. "Saya tidak tahan saya ingin perubahan. Mari bersama-sama saya melakukan perubahan," kata Sultan didampingi GKR Hemas.
Menurut Sultan, hal itu tidak berarti bila masyarakat tidak ingin perubahan. Apa artinya Hamengku Buwono yang punya kemampuan berubah dan diminta masyarakat untuk maju jadi presiden tapi rakyatnya tak ingin berubah.
"Bila rakyat akan berubah maka dia bisa menentukan saat masuk TPS. Saya tidak tahan dan saya ingin perubahan," kata Sultan yang saat akan mendeklarasikan itu telah melakukan perenungan dan meminta persetujuan istri dan anak-anaknya itu.
Sultan menegaskan dirinya hanya ingin mengabdi bukan untuk memperebutkan kekuasaan. Oleh karena itu, dirinya ingin mengubah cara pandangan sebagian masyarakat Yogyakarta yang tidak menginginkan dirinya maju pilpres 2009.
"Saya memang sultan tapi bukan wong agung zaman 100 tahun lalu. Saya memang sultan tapi Yogya sudah jadi bagian Republik. Itu berarti saya harus mendukung terjadinya demokratisasi. Saya seorang demokrat. Saya bersedia untuk maju, karena sebagai sultan saya harus berfungsi sebagai agent of change dan saya harus jadi role model yakni jadi keteladanan dan kompetensi," kata Gubernur DIY yang telah diperpanjang masa jabatannya itu.
Menurut dia, jabatan gubernur dan presiden itu tidak ada bedanya. Dirinya menjadi gubernur juga dikritisi masyarakat.
Presiden pun juga sama dapat dikritisi masyarakat. Oleh karena itu kenapa harus takut sultan harus dikritisi. Ini negara demokratis. Sultan ingin masyarakat Yogya punya kemauan berubah, Sultan bukan wong agung. Sultan warga bangsa yang tunduk kepada demokrasi dan kedaulatan itu di tangan rakyat.
"Acara pisowanan itu adalah contoh demokrasi lokal yang secara substansial dilakukan langsung masyarakat untuk bertanya pada saya. Tidak demokrasi prosedural, tapi substansial. Masyarakat bukan objek tapi subjek," pungkasnya.
Share to Twitter:
Message has successfully sent
Send Again
An Error has Occured
Back to Main Menu
Share to Lintas Berita:
You are redirected to Lintas Berita
Back to Main Menu
Share to Blogdetik:
Post this to your Blogdetik:
Back to Main Menu