Berita Lain

Indeks Berita




Selasa, 22/07/2008 09:52 WIB
Sukardi: Kurang Tegas Jadi Pertimbangan PKS Tinggalkan SBY
Rafiqa Qurrata A - detikNews

(Foto: Rumgapres)
Jakarta - Dengan tegas, Presiden PKS Tifatul Sembiring menyebut partainya tidak akan memilih pemimpin yang peragu. Ini menjadi gelagat PKS akan meninggalkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mengapa?

"Saya pikir, pernyataan itu memang diarahkan ke pemimpin nasional sekarang. Kita tahu citra SBY di mata publik terkenal kurang tegas," kata pengamat politik Sukardi Rinakit dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (22/7/2008).

Menurut Sukardi, penilaian itu sudah merupakan penilaian publik karena respon SBY yang kerap lambat. Misalnya, saat mengatasi persoalan lumpur Lapindo maupun kenaikan harga BBM.

"Banyak hal yang menunjukkan respon SBY lambat. Misalnya saat kenaikan BBM, itu sudah diumumkan 2 bulan sebelumnya, tetapi nggak cepat dieksekusi. Lalu soal kekerasan terhadap minoritas dan perusakan tempat ibadah. Saat korban Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) menjahit mulut, dia tidak cepat merespon," bebernya.

Demikian juga saat lumpur Lapindo semakin meluas dan menambah jumlah korban. Padahal, lanjut dia, untuk persoalan yang menyangkut hajat publik, seharusnya SBY bisa cekatan. Misalnya dengan menyita seluruh aset Lapindo Brantas Inc.

"Tapi dia tidak melakukan itu," kata Direktur Eksekutif Sugeng Sarjadi Syndicate ini.

Menurut Sukardi, sikap peragu SBY bisa jadi disebabkan karena ingin mempertimbangkan dengan matang. Namun sebagai pemimpin, dia juga harus memikirkan emosi publik.

"Ragu-ragunya atas dasar mempertimbangkan secara matang sehingga keputusannya lama, itu lain soal. Tetapi secara psikologis, publik ingin respon cepat dari pemimpinnya. Dengan begitu, publik punya sandaran, merasa tentram dan aman," jelas Sukardi.

Merosot

Dukungan terhadap SBY diprediksi merosot signifikan jika PKS tidak lagi mengusungnya dalam Pilpres 2009. Namun, hitung-hitungan politik PKS masih lentur.

"Kalau memang pemimpin peragu yang akan ditinggal PKS itu SBY, maka suara SBY akan berkurang signifikan," kata Sukardi.

Tetapi, lanjut dia, politik adalah peluang, belum tentu juga PKS akan meninggalkan SBY. Apalagi jika pendukung SBY masih signifikan.

"Bisa jadi pilihannya tetap kembali (mendukung)," imbuhnya.

Menurut dia, pernyataan PKS bukanlah harga mati, karena PKS akan melihat perolehan suara dalam pemilu legislatif. Kalau koalisi pendukung SBY mencapai 30 persen, belum tentu PKS akan pindah ke calon lain.

"Partai manapun, termasuk PKS, akan berproses secara smooth. Jika rakyat optimistis dengan calon itu. Tetapi jika melihat pemimpin yang lamban mengambil keputusan, maka dukungan juga melemah," jelasnya. (fiq/iy)


Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (76 Komentar)

Baca juga :

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Nuniek di nuniek[at]detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.526).