Berita Lain

Indeks Berita




Minggu, 18/05/2008 16:01 WIB
Laporan dari ISSM XI, Delft
Lemkowitz: Keberlanjutan Tak Bisa Dicapai Hanya dengan Teknologi
Eddi Santosa - detikNews

ISSM XI Menuju Indonesia yang Nyaman Huni (Foto: E. Santosa/detikcom)
Delft - Sustainability (keberlanjutan) tidak bisa dicapai hanya dengan teknologi, melainkan harus lintas disiplin. Pelajar, profesional dan pengambil kebijakan harus berpikir kritis.  

Demikian benang merah dari kuliah Prof. Dr. ir. Saul Lemkowitz selaku pembicara kunci pada perhelatan ilmiah pelajar dan profesional Indonesian Students' Scientific Meeting 2008 (ISSM 2008) di Delft University of Technology (TU Delft), 13-15 Mei 2008 bertema Sustainable Development in Indonesia: An Interdisciplinary Approach.

ISSM 2008 ini sekaligus memperingati 100th Kebangkitan Nasional, diselenggarakan oleh Institute for Science and Technology Studies (Istecs) Chapter Netherlands dan EU, PPI Delft serta PPI Wageningen, bekerjasama dengan TU Delft, CICAT, SNC dan KBRI Den Haag.

Menurut Lemkowitz, tehnologi memang esensial untuk mengatasi isu keberlanjutan planet bumi, namun teknologi saja tidak mencukupi. "Pendekatan lintas disiplin mutlak diperlukan," tegas Lemkowitz, yang menyampaikan kuliah berjudul How 'Sustainable' is Modern Civilization?

Untuk mendukung pernyataannya tersebut, Lemkowitz menyodorkan tiga model yakni model IPAT, model Kuznetz, dan model Sistem Kebijakan Multidisipliner (Allenby, 1998).

Dalam model IPAT dijelaskan mengenai dampak pada lingkungan (I), populasi (P), kesejahteraan (A), dan teknologi (T). Apakah kekuatan penentu ketidakberlanjutan (P meningkat, A lebih besar) telah dikompensasi oleh kemajuan teknologi?

Ditunjukkan bahwa penggunaan energi dalam waktu sekitar 500 tahun terakhir meningkat pesat dari 0 hingga mendekati 2x1014 kWHr/tahun saat ini. Konsentrasi CO2 (karbodioksida) di atmosfir melesat sampai 384 ppm (tahun ini). Konsentrasi CH4 (metana) di atmosfir juga meningkat, dari sejak tahun 250.000 SM sampai 1800 hanya pada kisaran 700 ppbv, kini meningkat menjadi 1.750 ppbv. Perubahan konsentrasi CO2 dan temperatur, mengakibatkan temperatur terus naik.

Kerusakan lainnya adalah kemusnahan habitat. Perkiraan jumlah kemusnahan spesies dalam rentang tahun 1900-2000 terus melesat hingga mencapai hampir 100.000 per tahun saat ini.  

Dari model IPAT itu jelas bahwa ternyata pertumbuhan populasi dan kesejahteraan yang meningkat pesat tidak dikompensasi oleh kemajuan teknologi. Hasilnya, kerusakan lingkungan secara substansial alias terjadi proses ketidakberlanjutan. Tanda-tadanya: perubahan iklim (pemanasan global), kemusnahan spesies dan keanekaragaman hayati secara massal, pengurasan sumber-sumber tak terbarui (energi fosil), dan terjadi kelangkaan air, ikan laut, dan tanah subur.

Pesimis?

Jadi bagaimana keberlanjutan dunia di masa depan? Bisa optimistis, bisa juga pesimistis. Model Kuznetz bisa membuka optimisme, menunjukkan hubungan tingkat tekanan atau beban lingkungan dengan tingkat pembangunan ekonomi (kesejahteraan).

Menurut hipotesis Kuznetz, seperti ditunjukkan kurva Kuznetz, pada tahap awal pembangunan beban lingkungan akan naik tajam, namun pada tahap berikutnya akan menurun seiring dengan kesejahteraan masyarakat yang meningkat. Singkatnya, semakin sejahtera suatu masyarakat, semakin tinggi tuntutan kualitas hidup. Artinya, akan ada upaya mengatasi polusi.

Contohnya Inggris. Pada periode setelah terjadi revolusi industri hingga abad 19, konsentrasi sulfurdioksida di London mendekati 1000 microgram/m3 dan asap mendekati 500 microgram/m3. Setelah Inggris sejahtera, tuntutan kualitas hidup pun meningkat, lalu terjadilah pengendalian polusi. Per tahun 2000 polusi sulfurdioksida dan asap itu mendekati nol.

Dunia yang lebih berkelanjutan bisa saja dicapai, kata Lemkowitz, dengan memanfaatkan model IPAT, model Kuznetz dan dengan menggunakan pendekatan lintas disiplin alias kebijakan sistem.
(es/es)
Komentar terkini (22 Komentar)

Baca juga :

SMS Iklan

temukan rahasianya di www.mindpowerfo rhealing.blogsp ot.com (+6281519235252)

Redaksi: redaksi[at]staff.detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Elin Ultantina di iklan[at]detiknews.com,
telepon 021-7941177 (ext.524).